Tampilkan postingan dengan label PROFIL DESA JONO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFIL DESA JONO. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Agustus 2017

Jalan Sehat Dalam Rangka HUT RI Ke 72 Desa Jono Tahun 2017

Desa Jono – Peringatan HUT RI Ke 72  di Desa Jono Tahun 2017 senantiasa dimeriahkan oleh even – even menarik nan kreatif. Kali ini peringatan dimeriahkan oleh acara jalan sehat dan bagi-bagi dorprise kepada seluruh warga Desa Jono yang mengikuti jalan sehat tersebut.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Lomba Voly HUT RI Ke 72 Tahun 2017 Desa Jono, Kec. Tawangharjo, Kab. Grobogan

Desa Jono - Peringatan HUT RI ke 72 Desa Jono Kec. Tawangharjo Kab. Grobogn kelompok ibu ibu PKK Desa Jono dimeriahkan dengan beberapa Agenda Lomba salah satunya yaitu Lomba Voli. Lomba Volly diikuti oleh 8 team dari 6 dusun yaitu 2 tim dari Dusun Jono, 1 tim dari Dusun Bolu, 1 tim dari Dusun Sileman, 1 tim dari Dusun Plumbungan, 1 tim dari Dusun Pucang, dan 1 tim dari Dusun Jangung.

Rabu, 02 Agustus 2017

Peninjauan Gubernur Jawa Tengah pada Industri Pengolahan Garam Desa Jono

Peninjauan Gubernur Jawa Tengah pada Industri Pengolahan Garam Desa Jono - Grobogan, 2 Agustus 2017 menjadi hari bersejarah dalam perjalanan Industri Pengolahan Garam Desa Jono, Kecamtan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. 

Jumat, 21 Juli 2017

Upacara Peringatan Hari Kartini Ibu Ibu PKK Desa Jono

Upacara Peringatan Hari Kartini Ibu Ibu PKK Desa Jono  - Berikut adalah video Upacara Peringatan Hari Kartini Ibu Ibu PKK Desa Jono pada tanggal 21 April 2017 yang dilaksanakan di Balai Desa Jono, Kec. Tawangharjo, Kab. Grobogan, Jawa Tengah.


Upacara bagian 1



Upacara bagian 2




Selasa, 18 Juli 2017

Cara Pembuatan Garam Desa Jono Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan

Cara Pembuatan Garam Desa Jono Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan - Salah satu sentra pembuatan garam di Kabupaten Grobogan ada di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo. Banyak dari kita yang tentu penasaran tentang cara pembuatan Garam ditengah sawah tersebut tanpa Air Laut seperti pada umumnya.

Senin, 26 Juni 2017

Tradisi Khas Desa Jono Saat Idul Fitri

Tradisi Khas Desa Jono Saat Idul Fitri - Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mempunyai kebiasan unik saat lebaran Idul Fitri yaitu ziarah Makam setelah shalat Ied lalu dilanjutkan dengan acara halal bi halal dengan silarahmi ke tiap rumah warga. 

Acara ini utin dilakukan masyarakat Desa Jono secara keseluruhan tanpa terkecuali dari tahun ke tahun. Hal ini dimaksudkan untuk senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan orang tua dan sanak saudara baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal.


Hubungan yang baik dengan kerabat dan sanak famili yang sudah meninggal diwujudkan dengan ziarah kubur untuk mendoakan mereka, sementara acara silaturahmi dari rumah ke rumah diwujudkan sebagai bentuk hubungan baik dengan sesama dan keluarga yang masih hidup.

Tentu nilai yang jauh lebh penting ini adalah karena suasana Hari Raya Idul Fitri setelah kita berpuasa sebulan semoga Allah mengampuni dosa - dosa kita dan menerima amal ibadah puasa kita. Aamiiin

Berikut ini adalah suasana ziarah kubur pada Hari Raya Idul Fitri setelah shalat Id yang menjadi momen yang tepat untuk menjaga kerukunan, kebersamaan, dan hubungan yang harmonis diantara warga Desa Jono.




Semoga adat istiadat dengan nilai luhur ini senantiasa menjadi kebiasaan anak cucu kita hingga akhir massa hingga menjadi nilai ibadah sosial (kebersamaan dan silaturahmi) dengan tetap menjaga nilai luhur, dan khasanah budaya yang tetap lestari.

Masih suasana bulan Syawal, Kami mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin". ^^

Senin, 19 Juni 2017

Desa Jono Mampu Bikin Garam Tanpa Air Laut

Lazimnya membuat garam dilakukan oleh warga atau petani garam yang tinggal di daerah pesisir pantai. Namun, di Kabupaten Grobogan, pembuatan garam bisa dilakukan di daratan yang sangat jauh dari pantai apa lagi lautan.

Pembuatan garam di centra pembuatan garam Desa Jono, jauh berbeda dengan pembuatan di kawasan pesisir pantai. Dimana, air laut yang dikumpulkan ke dalam kolam dangkal dengan cara dialirkan melalui parit kecil. Setelah di dalam kolam, air ditunggu mengering dan berubah kristal garam.

Di desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, air untuk membuat garam diambil dengan cara ditimba dari dalam sumur. Air yang diambil kemudian dialirkan ke dalam lubang tandon yang dibuat di dalam bilik kecil di tengah komplek persawahan. Setelah sekitar dua hari dirasa lumpur mengendap, air kemudian dituang ke dalam bambu yang dibelah menjadi dua atau oleh petani disebut klakah.

Sumur sumber air panas yang mengandung Garam Dapur Desa Jono

“Air dari sumur disimpan di dalam tandon selama sekitar dua hari. Setelah mengendap lumpurnya, air kemudian di tuang di klakah. Klakah itu bambu, bambu kita pilih yang kuat dan besar biar bisa menampung air garam lebih banyak,” ujar Kasrul (65) petani garam asal Desa Jono, Senin (6/3).


Pria yang bekerja sebagai petani garam sejak kelas lima sekolah rakyat (SR) ini menjelaskan, setelah di tuang di klakah, air di jemur beberapa hari. Setelah berubah menjadi kristal, Setelah itu di ambil kristal garamnya.


Gambar Klakah untuk tempat menjemur Air Garam

Gambar Penyangga Klakah untuk menjemur Air Garam


“Garam desa Jono berbeda dengan garam dari laut. Garam di sini berwarna sedikit pink jika garam laut berwarna putih. Petani garam disini kurang mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten. Jadi, dari sekitar 2.000 petani yang mengelola ratusan sumur, sekarang tingga ratusan dan sumur yang masih dipakai tinggal sekitar lima puluh sumur,” tambahnya sembari menuangkan air dari sumur ke pipa untuk mengalirkan air garam ke tandon.

Pengakuan serupa diungkapkan, Sunarti, petani berusia empat puluh tahun ini mengaku, pada saat musim penghujan, masa jemur air garam menjadi lebih lama.

“Jika kemarau seminggu sudah bisa dipanen. Karena sekarang banyak hujan, maka garam baru bisa dipanen setelah sepuluh hari hingga dua minggu,” tambah wanita yang memanen garam bersama Sudarji suaminya dan Sulasih anak perempuannya.

Penghasilan dari bertani garam, aku dia, dinilai lebih baik dibanding bertani di sawah.

“Setiap minggu kita bisa panen. Jika dihitung mendapatan sekitar Rp 300 hingga Rp 500 ribu bahkan bisa sampai Rp 700 ribu. Jika bertani disawah panen tiga bulan dan hasilnya tidak menentu,” tambah dia.

Tentang kenapa air di desanya bisa dibuat garam, wanita yang keberka meneruskan usaha orang tuanya itu mengaku tidak tahu menahu. Namun, karena mengandung garam, air di desanya cenderung hangat.

“Ada yang malahan panas, jadi digunakan untuk mengobati penyakit seperti gatal-gatal. Tapi, biar obatnya merasuk, lebih baik mandinya setelah mahrib atau seebelum subuh,” ungkapnya sembari menambahkan, saat ini makin banyak orang yang datang untuk mengobati gatal di tubuh dengan cara madni.

Rasa asin, tidak terjadi di seluruh wilayah desa Jono. Namun, air asin hanya dialami di dukuh Jono Krajan. Dimana, dukuh lain yang dibatasi sungai tidak merasakan air asin.

“Air asin tidak hanya di permukaan. Tapi, semakin dalam kita melubangi tanah air maki asin. Jaman dulu kedalaman sumur garam bisa mencapai 35 meter. Tapi, sejak petani garam berkurang air sekarang dangkal saja sudah bisa dapat sumber air asin,” aku Sri, pensiunan guru yang tinggal di desa Jono Krajan.

Karena asinnya air sumur, sebelum munculnya air ledeng sebutan bagi aliran air dari perusahaan daerah air minum (PDAM), warga harus mengambil air dari sungai yang mengalir di desa tersebut.

“Karena air sungai harus diendapan, jadi warga ada yang punya enam bahkan sepuluh gentong untuk menampung air sungai sebelum dimasak. Anehnya, air sungai di Desa Jono, baik yang bening atau keruh, jika sudah masuk ke dalam gentong ata bak tandong tembok sekalipun, kurang dari setengah jam sudah jernih,” tambah pria yang tingga lebih dari 30 tahun di desa tersebut.

Keanehan air di desa Jono, tidak saja tersebar di wilayah Grobogan. Namun, juga terkenal hingga ke Solo, Yogyakarta bahkan Jakarta.

“Banyak mahasiswa dari UGM yang datang dan belajar di Desa Jono. Entah mahasiswa apa, namun mereka belajar tentang adanya garam di desa Jono selama seharian,” tambahnya (MJ-505)

Sumber: mediajateng

SUSUNAN PERANGKAT DESA JONO, KECAMATAN TAWANGHARJO, KABUPATEN GROBOGAN

SUSUNAN PERANGKAT DESA JONO, KECAMATAN TAWANGHARJO, KABUPATEN GROBOGAN 
PERIODE 2013 - 2018


1. KEPALA DESA :

EKA WINARNA, S.Pd.


2. SEKRETARIS DESA : 

LISDIANA KURNIAWATI


3. KAUR TU & UMUM : SITI ASIYAH

4. KAUR KEUANGAN : MUCHTAROM

5. KAUR PERENCANAAN : 

SUJO


6. KASI PEMERINTAHAN : 


DJOKO SUNARYO


7. KASI KESEJAHTERAAN : 

FW TAMTAMA


8. KASI PELAYANAN 

SUDARJI


9. KEPALA DUSUN JONO KRAJAN : 

NURSIDIQ

10. KEPALA DUSUN PLUMBUNGAN : 

TARMAN

11. KEPALA DUSUN BOLU : 

MUNDHOFIR

12. KEPALA DUSUN SILEMAN : -

13. KEPALA DUSUN PUCANG : AHMAD MUKLISIN



14. KEPALA DUSUN JANGKUNG : YULI HANDAYANI